Kamis, 29 Desember 2016

PERALIHAN PUTIH BIRU KE PUTIH ABU ABU

K
ata orang, masa SMA adalah masa yang paling bahagia, yang akan membuatmu memiliki banyak kenangan tak terlupakan. Masa dimana kamu mengerti bahwa memiliki satu teman yang tulus sudahlah sangat cukup daripada memiliki banyak teman namun tidak tulus, masa dimana kamu mulai merasakan apa itu jatuh cinta, masa kamu mulai sedikit mengkhawatirkan nasib masa depanmu, dan mungkin, masa SMA adalah masa terakhirmu menikmati nikmatnya berada di sekolah, di kelas dengan banyak teman-teman konyolmu, dan merangkai sejarah yang suatu hari nanti akan kau ceritakan pada anak cucumu, ya, itulah masa yang dirasakan semua orang. Masa putih abu-abu.

Disini, aku ingin menceritakan sedikit pengalamanku ketika menuju jenjang SMA. Mungkin sedikit berbeda dari yang lain, tapi aku tetap mensyukuri setiap garis ceritanya.

Hari itu, pada detik-detik kelulusan SMP, aku lihat teman-teman begitu antusias mencari sekolah yang mereka inginkan. Ada yang ingin melanjutkan ke sekolah negeri, ada yang ingin di swasta, ada juga yang ingin melanjutkan di pesantren. Aku sendiri saat itu ingin sekali bisa melanjutkan sekolah di sekolah negeri, mengingat sejak SD-SMP aku selalu di sekolah swasta. Namun aku begitu ragu. Karena keinginan mamaku untuk pindah ke luar kota, tepatnya di Bekasi, tempat bapakku bekerja selama hampir dua tahun terakhir.

Ya, selama dua tahun terakhir, bapak pindah kerja di luar kota, di Cikarang Bekasi, Jawa Barat. Tempatnya jauh dari tempat tinggalku saat itu, di Sidoarjo, Jawa Timur. Aku ingat, betapa hambarnya hari tanpa bapak di rumah. Bapak pulang sebulan 1-2 kali. Saat itu, Wigar (adikku) sering sekali menangis karena harus berpisah dengan bapak. Butuh kurang lebih dua tahun, menunggu adikku lulus SD, dan kakakku lulus SMA. Sedangkan aku sendiri sudah lebih dulu lulus SMP. Rencananya, aku akan sekolah di Sidoarjo dulu selama setahun, lalu pindah sekolah ke Bekasi, saat naik kelas 2. Namun aku pikir, itu terlalu memberatkan kedua orang tuaku dan mengharuskan aku beradaptasi dua kali. Hmm karena aku tahu, aku bukan tipe orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi menjadi “siswa baru”. Aku benci menjadi siswa pindahan. Dan akhirnya kuputuskan bahwa aku harus langsung sekolah di sana, selama setahun hanya tinggal bersama bapakku. Aku sedih dengan keputusanku sendiri, dan mungkin itu sebuah keputusan paling menyakitkan yang pernah aku lakukan.

Aku harus mengubur dalam-dalam keinginanku untuk sekolah di sekolah negeri. Karena orang tuaku khawatir, jika aku sekolah di sekolah negeri, di tempat yang baru untukku. Dengan berat hati, aku menerimanya. Walaupun butuh waktu hampir setahun untuk berhenti menyesalinya.
Hari itu, tepatnya 29 Mei 2015.

Pagi-pagi setelah pulang mabid di sekolah, aku langsung berkemas mempersiapkan barang barang yang aku butuhkan untuk ke Bekasi. Ya, hari itu aku akan pergi ke Bekasi seorang diri untuk melaksanakan tes masuk SMA, di salah satu SMA Islam. Ya, sebut saja TBZ. Sebelumnya aku sudah beberapa kali browsing mengenai sekolah itu, bagaimana akhirnya aku bisa mau di sekolah swasta (lagi)? Itu cerita yang lumayan panjang.

            “Berangkat dulu yaa mah,” kataku sambil mencium tangannya.

            “Kamu barusan pulang kok mama ditinggal lagi..” kata mamaku lirih.

Aku sedikit terenyuh mendengar kata-katanya. Aku hanya akan pergi dua hari, namun mengapa terasa begitu berat? Bagaimana jika nanti aku sekolah di sana selama setahun dan tak dapat bertemu setiap hari?ah sudahalah, aku tidak boleh cengeng.

Singkat cerita, aku sudah tiba di stasiun, dan bersiap akan pergi ke Bekasi, seorang diri. Saat memasuki pintu stasiun, seorang petugas stasiun meminta tiket dan kartu pelajarku. Terlihat jelas ekspresi heran di wajahnya.

            “Masih SMP? Kok sendirian? Berani?” tanyanya heran.

Aku hanya nyengir membalasnya. Ya, sedikit aku beri penekanan, dengan tubuhku yang pendek, kartu pelajarku yang masih “SMP”, bukan berarti aku takut hanya untuk naik kereta sendirian. Ini memang pengalaman pertamaku naik kereta seorang diri ke Bekasi. Tapi aku tidak setakut itu. Aku hanya perlu duduk menunggu hingga kereta ini berhenti di stasiun tujuanku, ya, saat itu aku turun di stasiun Jatinegara.

Dini hari, aku sampai juga di stasiun Jatinegara, bapakku sudah menunggu di situ  sejak beliau pulang kerja. Sungguh bapak yang baik kan? Akupun langsung pergi menuju ke Bekasi. Paginya, aku bersiap-siap menuju ke “calon sekolahku”. Kesan pertamaku ketika melihat sekolah itu baik, hanya saja sedikit berbeda dengan yang aku lihat di google. Ya, ternyata yang di google adalah gedung SMPnya, bukan SMA nya, mungkin aku kurang teliti saat browsing. Tak masalah.
Tes aku jalani dengan lancar, selama tes aku berpikir aku melakukan ini untuk orang tuaku, meskipun sebenarnya ini bukan keinginanku, namun ku pikir tak apalah. Pilihan orang tua mungkin yang terbaik untukku.

Besoknya pada siang hari, aku berangkat menuju ke stasiun gambir, tentu saja untuk kembali ke sidoarjo. Sampai Sidoarjo pagi jam 8. Akupun langsung mandi dan bergegas menuju ke sekolah, tak masalah harus naik angkot ke sekolah, karena aku sudah ketinggalan mobil antar jemput. Entahlah, saat-saat akan lulus justru adalah saat yang sayang untuk dilewatkan. Untuk itulah, rasanya tak rela jika saja tidak masuk sekolah walaupun hanya sehari. Sampai di sekolah, aku sudah bertemu dengan ehem. Yaa dia, penyemangatku saat di sekolah. Aku begitu senang akhirnya bisa kemari lagi. Dan benar, hari itu adalah hari terakhirku sekolah, karena untuk kelas 9 akan libur sampai pada hari wisuda.

Siangnya, sepulang sekolah, aku membeli jajanan di depan sekolah dengan Citra dan juga Vero. Entahlah mengapa aku masih ingat betul moment itu.  tiba-tiba ada seseorang (baca : ehem) berkata padaku

            “Pulang bareng yuk,”

Saat itu dunia rasanya berguncang. Jantungku berdegub sangat kencang. Aku bahkan tidak bisa menahan senyumanku. HEEI APA YANG BARU SAJA DIA KATAKAN? Aku tau itu hanya bercanda, aku berpura-pura tidak mengiraukannya.

            “Sal, itu lhoo diajak pulang bareng,” kata Vero

            “Iya saal, cepetan sanaa” tambah Citra.

INI CUMA MIMPIKAN? KENAPA DIA BEGITU GILA? INI MASIH DI LINGKUNGAN SEKOLAH KENAPA DIA BEGITU?!

Singkat cerita, aku pulang bersama dengan dia. Ya, dia. Si ehem. Seharusnya aku pulang naik antar jemput. Namun ku pikir ini adalah hari terakhirku di SMP. Tidak ada salahnya bandel sedikit. Kita pulang lewat jalan belakang sekolah. Kebetulan jarak dari sekolah ke daerah angkot lumayan jauh. Awalnya kita jalan bersebelahan. Tidak. Tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku berjalan di ujung sisi kiri jalan, dia jalan di ujung sisi kanan jalan. Karena jika berjalan di dekatnya, aku merasa terhina. Terhina dengan tingginya. Ya, sependek itulah aku.

Semakin jauh, aku menyuruhnya jalan duluan. Aku takut. Sangat takut jika dipergoki teman atau adik kelasku. Dia berjalan dengan begitu cepat, ya aku tahu dia memiliki kaki yang panjang, tapi seharusnya dia sedikit menungguku yang jalannya lambat karena kakiku tidak panjang seperti dia.
Di tengah jalan, seorang anak laki-laki menyapaku

            “Salsa? Sendirian?”

Aku begitu terkejut. Aku kira dia temanku atau adik kelasku. Ternyata dia teman SD ku yang beda SMP denganku.

            “Eh rere, iya” balasku.

Terlihat sekali ekspresi heran darinya. Bagaimana tidak? Sepanjang perjalanan aku memasang wajah gelisah.

Ternyata ehem menungguku. Dia bertanya

            “Itu siapa?” tanyanya

            “Rere. Teman SD” jawabku

            “Ohh,” kemudian ia jalan lagi. Sangat cepat. Menyebalkan.

Di dalam angkot, aku hanya diam. Melihatnya saja aku takut. Tapi jantungku terus berdegub kencang. Ah biaslah, jatuh cinta saat masih bocah memang begini.

***

Suatu hari, aku mendapat kabar bahwa aku diterima di tbz. Namun tiba-tiba bapak menyuruhku mencoba tes di negeri, di Sidoarjo, mungkin karena kasihan padaku. Akhirnya besok aku pergi bersama ehem untuk mengambil formulir pendaftaran, entahlah, saat itu aku hanya menajalankannya tanpa berharap akan diterima di sekolah itu. Hingga hari tes pun tiba. Saat itu aku sedikit tidak enak badan. Badanku panas dingin sehingga aku tak bisa fokus mengerjakannya. Pulangnya, matahari begitu terik. Badanku juga sangat lemas. Tes kedua akan dilaksanakan setelah wisuda. Pada dasarnya aku sudah malas dan tak berharap untuk masuk sekolah itu. Sebelumnya aku sangat semangat. Bahkan aku belajar semalaman, namun saat aku bertanya pada mamaku

            “Ma, kalau aku diterima di sekolah negeri gimana?” tanyaku

            “Yaa tetap di Bekasilah,” jawabnya

Seketika aku kehilangan semangatku. Harapanku sirna begitu saja. Mungkin itu yang membuatku down, dan akhirnya jatuh sakit. Aku merasa, sia-sia kemarin aku mengerjakan soal-soal itu. Sia-sia. Ya, sangat sia-sia. Oleh karena itulah, aku memutuskan untuk tidak mengikuti tes kedua. Itu adalah keputusan yang paling aku sesali satu tahun kemarin. Dan itu artinya,aku jelas tidak diterima. Dan dia (baca ; ehem) diterima dan sudah sekolah di situ sampai saat ini.
***
Sekarang aku sudah satu setengah tahun di Bekasi. Ya, pada akhirnya aku menuruti keinginan kedua orang tuaku. Berat? Tentu. Semuanya tidak mudah. Namun lama kelamaan aku mulai terbiasa. Aku tahu, bahwa semua itu butuh proses, butuh waktu, kita hanya perlu mensyukurinya. Aku percaya, bahwa setiap takdir yang tak sesuai keinginan, memiliki arti lain di baliknya. Dari situ aku belajar, bahwa sekuat apapun aku berusaha, jika Allah bilang tidak, maka tidak akan terjadi. Memang rencana-Nya yang paling indah. Terbukti, aku bahagia di sini, aku bisa satu rumah lagi dengan kedua orang tuaku, aku memiliki teman-teman begitu baik, aku punya pengalaman di SMA yang begitu berkesan. Lain kali mungkin akan aku ceritakan bagaimana kesanku selama SMA.


T H A N K Y O U  F O R   R E A D   M Y  W E I R D B L O G

Sabtu, 16 April 2016

UNDERESTIMATED

“Eh aku sudah buat naskah drama buat kelas kita nanti tampil di Pensi sekolah,” kataku sambil menyerahkan beberapa lembar kertas pada ketua kelasku.

“Ohh okay aku baca dulu ya,”

Mataku mengikuti gerakan naskah itu yang sedang digilir dari satu orang ke orang lain. Dan aku memperhatikan betul setiap ekspresi teman-temanku usai membaca naskah buatanku, yang memang sangat terburu-buru membuatnya sampai kehabisan ide. Tiba-tiba seseorang memanggilku.
                
           “Salsa, maaf ya kalau aku nggak setuju sama naskah itu,”

Bingung. Malu. Sedih. Sepertinya semua itu bercampur dalam diriku. Aku yang mendengar itu hanya dapat meringis
                
          “Hehe, iya nggak papa kok. Itu naskahnya memang asal-asalan, maaf ya,” ucapku sekuat tenaga menahan kesedihan.
                
“Salsa, kata-kata di naskahnya kok gitu sih,”
                
“Salsa, emang harus pakai naskah ini?”
                
“Salsa, nggak ada yang lain naskahnya?”
                
“Salsa, kok gini naskahnya?”
               
  “Salsa, ini buatan kamu?”


Terlalu banyak kritikan yang aku terima hingga rasanya aku lelah untuk pura-pura tersenyum. Seorang temanku menyerahkan naskah itu pada guruku. Beliau membacanya dengan seksama dengan ekpresi datar, bahkan sesekali mengernyitkan dahinya. Aku berharap sudah cukup kritikan yang aku terima.
                

“Baik anak-anak, soal Pensi sekolah, ternyata tidak jadi diadakan, dan diganti dengan lomba olahraga. Naskah milik Salsa, yang untuk tahun lalu sudah bagus ya. Tapi ibu pikir untuk naskah kali ini, kurang baik untuk ditampilkan,”
***


Cuplikan cerita di atas memang murni pengalaman aku. Yang nggak bisa terlupakan sampai sekarang. Sejak itu, aku jadi sedikit takut untuk berkarya lagi. Lebih tepatnya, aku takut dapat “kritikan”.
Memang, di dunia ini pasti ada saja orang yang mencintai, juga membenci kita. Entah karena tidak suka dengan kita, atau bahkan iri dengan apa yang kita miliki. Kita semua mungkin pernah merasakan yang namanya “Diremehin”
                
“Ah kamu mah bisa apa?”
                
“HAHAHA kamu mau jadi dokter? Ngimpi ketinggian,”
               
  “Kamu kan bukan dari keluarga kaya,”
                
“Kamu kan kemampuannya biasa-biasa aja,”
                
“Kamu kan nggak secantik dia,”

Dan mungkin masih banyak lagi kata-kata yang terdengar seperti meremehkan, bahkan menghina. Walaupun niatnya bercanda, tapi nggak ada yang tahu kan kalau orang itu sakit hati atau enggak? Aku bener-bener nggak pro  sama orang yang nggak bisa “respect” sama orang lain, atau kalau anak jaman sekarang bilangnya “suka judge orang seenak jidat” tapi bukan berarti aku nggak pernah ngelakuin itu ya.


Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan sendiri. Kadang itu kita nggak sadar suka nertawain kekurangan orang. Suka ngeremehin kemampuan orang. Ngerasa “Gue yang paling paling paling”. Inget, di atas langit masih ada langit. Ngatain orang lain bego gabakal bikin kita pinter, ngatain orang lain jelek gabakal bikin kita cantik, ngatain orang lain miskin gabakal bikin kita kaya, ngatain orang nggak bisa apa-apa nggak bakal bikin kita kelihatan sempurna.


Lalu, kalau misalnya kita ada diposisi orang yang diremehin gimana?

Kita tahu, Nabi Muhammad SAW aja, yang baiknya luar biasa, yang taat luar biasa, yang dijamin surga sama Allah SWT, justru punya banyak sekali haters. Mending ya kalau sekarang mah, ngehina pakai kata-kata dan Cuma di sosmed. Nah Rasulullah? Diludahin, dilemparin kotoran hewan, hampir dibunuh. Tapi apa Rasulullah merasa dendam? Apa Rasulullah membalas lemparin haters nya dengan kotoran hewan? Balas ngeludahin mereka? balas mau bunuh mereka? jawabannya : TIDAK!
Tidak sama sekali. Justru Rasulullah menjenguk hatersnya jika sedang sakit, mendo’akannya agar lekas sembuh, mendo’akannya agar segera mendapat hidayah dari Allah SWT.


Dari situ, dapat kita ambil kesimpulan, bahwa “Keburukan haruslah dibalas dengan kebaikan”
Memang susah. Memang susah buat ikhlas terima perlakuan orang lain ke kita yang “nyakitin”. Yang nggak ngertiin kita bangetlah. Senyumin aja. Do’akan aja yang baik-baik buat dia. Soal dia ngeremehin kita, ngehina kita, itu urusannya dia sama Allah SWT.


“Don’t let your happiness depend too much on other people”

Kadang, kita perlu punya rasa “bodo amat” sama orang lain. Anggap aja hinaan mereka itu angin lalu. cukup tutup mata, tutup telinga, jalan aja terus. Raih apa yang pengen kamu raih, lakukan apa yang pengen kamu lakukan. Jalan terus. Bayar hinaan mereka dengan senyum suksesmu suatu saat nanti. Buat mereka yang menghina kamu speechless. Buktiin kalau kamu nggak seperti apa yang mereka pikir.

SEMANGAT!