Sabtu, 02 Juni 2018

SIAPA BILANG AKU TAK RINDU?

Berat rasanya kala kaki harus melangkah kemana aku tak ingin beranjak.
Namun saat itu, pergi bukanlah lagi sebuah pilihan, namun keharusan yang mau tak mau harus ku lakukan.

Takdir terkadang memang sedikit kejam dan memaksa, seolah tak peduli rindu, pergi adalah pergi, tinggal adalah tinggal.
Dan takdirku saat itu menuntunku untuk pergi.

Kata orang, ketika ditinggalkan seseorang kita akan tersiksa oleh rindu.
Namun apakah mereka tak pernah memikirkan bagaimana rasanya berada di posisi orang yang meninggalkan?
Jauh lebih berat.

Ketika ditinggalkan mungkin aku akan asik merindu di tengah tempat yang memang biasa ada dalam keseharian.
Namun ketika meninggalkan aku tak dapat menikmati rindu karena yang aku inginkan hanya kembali, dan berusaha melupakan rindu dengan memaksa diri menyatu dengan suasana yang baru.

Ya, kembali. Melepas rindu bertemu semua yang selama ini aku tinggalkan, semua yang tak dapat aku temui kala aku pergi.

Ketika ku pergi, aku selalu berpikir bahwa saat aku kembali nanti, semua akan tetap seperti dulu. Karena itulah, aku selalu tak sabar untuk pulang. Rasanya tak sabar ingin merasakan kembali suasana dulu.

Namun aku lupa, meninggalkan bukan berarti apa yang aku tinggal akan diam, ia juga akan berubah seiring berjalannya waktu. Sama sepertiku yang perlahan berubah menjadi semakin menikmati suasana baru ini.

Dan saat menyadari itu, rasanya aku enggan pulang. Lebih baik memang di sini saja. Untuk apa kembali? Memangnya mereka mengharapkan kehadiranku? Tentu saja tidak. Mereka telah asik dengan kehidupannya tanpa diriku.

"Hai apa kabar?"

"Acara reuni dateng yuk!"

"Gimana di sana?"

Dan sebuah pertanyaan yang cukup menyambar hati

"Emangnya ngga kangen ya?"

Hey, kata siapa aku tak rindu?
Hanya saja aku enggan kembali. Aku seolah tak siap melihat apapun perubahan itu. Aku ingin kembali dengan keadaan semua seperti dulu.


Aku ingin kembali, jika itu semua masih seperti dulu.